....

....

....

Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor. Tampilkan semua postingan

Jumat

Lebih Banyak Ikan di Laut atau Bintang di Langit ?

 

Pada suatu hari, Raja Harun Ar Rasyid kelihatan murung sekali karena beliau memiliki pertanyaan dan para menterinya belum ada yang mampu menjawabnya dengan tepat.

Akhirnya berimbas suasana istana terlihat sunyi senyap karena rajanya sedang termenung memikirkan dua pertanyaan sang raja. Semuanya telah berusaha dengan keras, namun jawaban dari pertanyaan raja belum juga ketemu.

Baginda raja sangat ingin tahu jawabannya. Mungkin karena rasa penasaran, penasehat kerajaan menyarankan untuk memanggil Abu Nawas untuk memecahkan teka-teki yang membingungkan ini.

Karena dua pertanyaan ini, baginda raja tak dapat tidur karena kepikiran dengan keingintahuannya untuk menyingkap fenomena alam tersebut.

Abu Nawas akhirnya jadi dipanggil dan menghadap sang Raja.
"Tuanku yang mulia, sebenarnya rahasia alam yang manakah yang Paduka maksudkan?" tanya Abu Nawas.

"Aku memanggilmu untuk menemukan jawaban dari dua teka-teki yang selama ini menggoda pikiranku, "kata raja.
"Bolehkah hamba mengetahui dua teka-teki itu, wahai Paduka?" tanya Abu Nawas.

"Yang pertama, dimanakah sebenarnya batas jagad raya ciptaan Tuhan kita itu?" tanya raja.
"Di dalam pikiran wahai Paduka yang mulia, "jawab Abu Nawas.
"Kenapa bisa begitu?" tanya raja.
"Tuanku, ketidakterbatasan itu ada karewna adanya keterbatasan. Dan keterbatasan itu ditanamkan oleh Tuhan di dalam otak manusia. Dari itu, manusia tidak akan pernah tahu dimana batas jagad raya ini. Sesuatu yang terbatas tentu tak akan mampu mengukur sesuatu yang tidak terbatas, "jelas Abu Nawas.
Raja mulai tersenyum karena merasa puas mendengarkan jawaban Abu Nawas yang masuk akal. Kemudian, Baginda melanjutkan dengan teka-teki yang kedua.

"Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih banyak, bintang-bintang di langit ataukah ikan-ikan di laut?" tanya raja.
"Ikan-ikan di laut, Paduka, "jawab Abu Nawas.
"Bagaimana kamu memutuskan hal tersebut, apakah kamu pernah menghitungnya?" tanya raja.

"Paduka yang mulia, bukankah kita semua tahu bahwa ikan-ikan itu setiap hari ditangkap dalam jumlah yang besar, namun seolah-olah jumlah mereka tak berkurang sama sekali. Sementara bintang-bintang tak pernah diambil, jadi jumlah tetap saja," jelas Abu Nawas.

Seketika rasa penasaran Baginda Raja sirna atas jawaban yang diberikan oleh Abu Nawas. 
Kisah 1001 Malam

Dituduh Mencuri

 

Abu Nawas memang sangat terkenal dengan kecerdikannya dalam memecahkan masalah yang pelik. Begitu juga dengan kisah yang satu ini, Abu Nawas ditimpa masalah, difitnah dan dituduh mencuri.

Akankah Abu Nawas mampu menyelesaikan perkara ini? Berikut kisahnya.

Pada suatu hari, si Fulan datang ke istana Raja Harun Ar Rasyid. Dia ini diam-diam memendam rasa dendam kepada Abu Nawas. Setelah bertemu dengan raja, maka ia pun menceritakan perihal maksud kedatangannya.

"Yang mulia, aku ingin melaporkan perbuatan buruk salah satu orang kepercayaan Anda, "kata si Fulan.
"Siapakah dia dan apa yang telah diperbuatnya? "tanya raja.
"Dia adalah orang kepercayaan Paduka, yaitu Abu Nawas. Dia telah melakukan perbuatan keji, yaitu mencuri kalung emas saya, "jawab si Fulan.

Raja pun terkejut, dan meminta si Fulan menceritakan kronologisnya.

"Begini yang mulia, sepertinya Abu Nawas sudah lama mengincar kalung emas saya. Awalnya ia ingin memebeli kalung tersebut, namun hamba tidak ingin menjualnya, "terang si Fulan.

Mendengar hasutan orang tersebut, Abu Nawas pun langsung dipanggil ke istana. Sesampainya di istana, raja memerintahkan prajurit untu memenjarakan Abu Nawas.

"Tunggu sebentar Paduka, sebenarnya ini ada apa hingga pada begitu marah kepada saya, "bela Abu Nawas sembari kebingungan.

Mendengar ucapan Abu Nawas tersebut, raja langsung murka,
"Berani sekali kamu bertanya seperti itu, bukankah kamu sudah mencuri kalung si Fulan?" bentak raja sambil menunjuk si Fulan yang tak jauh dari raja.
"Tidak Paduka, untuk apa saya mencuri kalungnya? "bantah Abu Nawas.
Abu Nawas mulai sadar bahwa dirinya telah difitnah.

"Buktinya, orang ini membawa selendang milikmu, dan aku pernah melihatnmu memakainya, "kata raja.
Abu Nawas memang pemilik selendang tersebut, namun sudah dua hari lamanya selendang tersebut hilang dicuri oleh seseorang.
Dia sudah mencoba menjelaskan beberapa kali sampai lama, namun kayaknya usahanya sia-sia saja.

Pada keesokan harinya, dan karena banyaknya hasutan yang dilontarkan si Fulan kepada raja, akhirnya Abu Nawas dijatuhi hukuman mati. Selain itu, baginda juga ingin menguji kepandaianh Abu Nawas dalam perkara ini.

Saatnya hukuman mati diberikan. Sesaat sebelum hukuman mati dilaksanakan, raja sempat menanyakan apa permintaan terakhir Abu Nawas ini.

Dan oh ternyata saat-saat ini yang palking ditunggu oleh Abu Nawas. Abu Nawas minta agar diberi kesempatan untuk memilih hukuman mati dirinya.

"Hamba minta bila pilihan hamba benar, hamba bersedia dihukum pancung. Tapi jika pilihan hamba dianggap salah, maka hamba dihukum gantung saja, "kata Abu Nawas memohon.
"Engkau ini memang orang yang aneh. Saat-saat genting pun masih saja sempat bersenda gurau. Akan tetapi, dsegala tipu muslihatmu tidak akan bisa menyelematkanmu, "ujar baginda.

"Hamba tidak bersenda gurau, Paduka, "kata Abu Nawas.
Raja pun semakin terpingkal-pingkal dibuatnya. Namun belum selesai raja tertawanya, Abu Nawas berteriak dengan nyaring.

"Hamba minta dihukum pancung !" "Hamba minta dihukum pancung !"

Semua orang yang hadir saat itu dibuat kaget. Mereka bertanya-tanya kenapa Abu Nawas membuat keputusan seperti itu. Sementara itu raja mulai curiga dan sekaligus mulai berpikir tentang kalimat permintaan terakhir dari Abu Nawas tadi.

"Baginda, hamba tadi mengatakan bahwa hamba akan dihukum pancung.Kalau pilihsn hamba benar, maka hamba dihukum pancung. Tetapi dimanakah letak kesalahan pilihan hamba, hingga hamba harus dihukum gantung. Padahal hamba kan memilih dihukum pancung?" jelas Abu Nawas.

Tak disangka olah kata Abu Nawas membuat raja tercengang dan menyadrinya. Dalam hati, raja mengakui kehebatan Abu Nawas. Dan selanjutnya, masalah tersebut masih diusut lagi.

Serlang beberapa hari kemudian, ternyata Abu Nawas hanya difitnah saja oleh si Fulan
Kisah 1001 Malam

Rabu

Menangkap dan Memenjarakan Angin

 

Secara logika tugas baginda raja ini tak masuk akal sama sekali. Bagaimana mungkin seseorang bisa menangkap angin dan diperlihatkan hasil tangkapannya kepada raja.

Namun, bukanlah Abu Nawas kalau tak bisa sukses menjalankan tugas yang pelik seperti ini. Akankah Abu Nawas berhasil menunaikan titah raja?

Asal mula tugas berat ini adalah karena raja sering mengalami gangguan perut. Bisa dikatakan saja kalau raja sering masuk angin apalagi ketika sering bertugas ke lapangan di waktu musim dingin.

"Abu Nawas, aku ingin kamu untuk menangkap angin dan memenjarakannya, "kata raja.

Abu Nawas kaget, tugas ini tak masuk akal.
"Bagaimana cara membuktikannya kalau angin benar-benar telah aku tangkap? "guman Abu Nawas.

Abu Nawas berpikir keras karena hanya 3 hari waktu yang diberikan oleh baginda raja. Lama berpikir, Abu Nawas berguman.
"Bukankah jin itu juga tak terlihat?"

Tiba-tiba saja Abu Nawas senyum dan berjingkrak kegirangan. Rupanya beliau sudah menemukan cara untuk menangkap angin dan sekaligus membuktikannya kepada raja.

Keesokan harinya Abu Nawas menghadap raja.
"Apakah kamu sudah menangkap angin?" tanya raja.
"Sudah Tuanku, "jawab Abu Nawas sambil mengeluarkan botol dari balik bajunya.

"Mana angin itu?" tanya raja.
"Di dalam botol ini Tuanku, "jawab Abu Nawas.
"Mana? aku tak melihat apa-apa, "kata raja.

"Ampun Tuanku, memang angin tidak bisa dilihat, akan tetapi jika Paduka ingin tahu angin yang saya tangkap, maka tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu."

Setelah dibuka, raja mencium adanya bau tak sedap keluar dari dalam botol tersebut. Baunya sangat menyengat. Ternyata Abu Nawas sengaja memberinya angin yang busuk agar bisa tercium dengan mudah
Kisah 1001 Malam

Selasa

Menaklukkan Monyet Pintar

 

Pada pagi hari yang cerah, Abu Nawas menerima sepucuk surat dari raja yang isinya adalah Abu Nawas diberi titah untuk menyelidiki kondisi rakyatnya.

Raja Harun memang terkenal bijaksana dan adil.

Dan Abu Nawas adalah tim yang terbaik untuk memeriksa kondisi masyarakat saat itu. Pada sore harinya, Abu Nawas menyisir kota untuk melihat kondisi rakyat.

Pada saat itu, ia tak menemukan sesuatu yang aneh atau mencurigakan karena memang perekonomian sedang baik. Namun pada saat ia melewati sebuah kawasan yang biasa digunakan untuk acara hajatan, tiba-tiba langkahnya terhenti.

Dilihatnya ada begitu banyak penduduk berkerumun, dan akhirnya Abu Nawas penasaran hingga melangkah ke tempat kerumunan tersebut.

Dia tanya salah satu orang tentang ada apa gerangan kok begitu banyak orang berkerumun. Ternyata kerumunan tersebut ada suatu pertunjukan yang melibatkan seekor monyet yang pintar.

"Ada pertunjukan keliling yang melibatkan seekor monyet pintar, "jawab salah satu penduduk.
"Apa maksudmu dengan monyet pintar?" tanya Abu Nawas.
"Monyet tersebut bisa mengerti bahasa manusia dan lebih hebat lagi, monyet itu hanya mau tunduk kepada pemiliknya saja, "jelas salah seorang penduduk yang satunya.

Kontan saja, jawaban dua orang penduduk tersebut membuat hati penasaran, apa iya ya. Abu Nawas langsung menuju kerumunan penduduk dan saat itu si pemiliki monyet menawarkan hadiah tinggi bagi siapa saja yang mampu membuat monyetnya mengangguk-angguk.

Maka tak heran jika banyak yang mencoba keberuntungan ini. Satu persatu maju, namun semua gagal terus karena si monyet memang sangat gigih dilatih tuannya.

Karena rasa penasaran, Abu Nawas maju ke depan.

"Tahukah siapa aku ini, " tanya Abu Nawas.
Si monyet menggeleng-gelengkan kepala.
"Apakah engkau tidak takut kepadaku? "tanya Abu Nawas.
Si monyet menggelengkan kepala.
"Apakah engkau takut kepada Tuanmu?" tanya Abu Nawas.
"Baik, jika kamu tetap diam, maka akan aku laporkan kepada tuanmu, "ancam Abu Nawas.

Secara spontan, seketika itu juga, si monyet mengangguk-anggukkan kepalanya. Sontak saja penonton bertepuk tangan karena ada yang berhasil.

Abu Nawas mendapatkan hadiah, si pemiliki monyet marah besar kepada monyetnya dan memukulinya dengan kayu.
Kisah 1001 Malam

Jumat

Debat Kusir Tentang Ayam

 

Melihat ayam betinanya bertelur, Baginda tersenyum. Beliau memanggil pengawal agar mengumumkan kepada rakyat bahwa kerajaan mengadakan sayembara untuk umum.
Sayembara itu berupa pertanyaan yang mudah tetapi memerlukan jawaban yang tepat dan masuk akal.

Barangsiapa yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mendapat imbalan yang amat menggiurkan, Satu pundi penuh uang emas.
Tetapi bila tidak bisa menjawab maka hukuman yang menjadi akibatnya.

Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu terutama orang-orang miskin.
Beberapa dari mereka sampai meneteskan air liur.
Mengingat beratnya hukuman yang akan dijatuhkan maka tak mengherankan bila pesertanya hanya empat orang.
Dan salah satu dari para peserta yang amat sedikit itu adalah Abu Nawas.

Aturan main sayembara itu ada dua.
  • Pertama, jawaban harus masuk akal.
  • Kedua, peserta harus mampu menjawab sanggahan dari Baginda sendiri.
Pada hari yang telah ditetapkan para peserta sudah siap di depan panggung.
Baginda duduk di atas panggung.
Beliau memanggil peserta pertama.
Peserta pertama maju dengan tubuh gemetar.

Baginda bertanya, "Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?"
"Telur." jawab peserta pertama.
"Apa alasannya?" tanya Baginda.
"Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur." kata peserta pertama menjelaskan.
"Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu?" sanggah Baginda.
Peserta pertama pucat pasi, Wajahnya mendadak berubah putih seperti kertas, la tidak bisa menjawab, Tanpa ampun ia dimasukkan ke dalam penjara.

Kemudian peserta kedua maju.
la berkata, "Paduka yang mulia, sebenarnya telur dan ayam tercipta dalam waktu yang bersamaan."
"Bagaimana bisa bersamaan?" tanya Baginda.
"Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur.
Bila teiur lebih dahulu itu juga tidak mungkin karena telur tidak bisa menetas tanpa dierami." kata peserta kedua dengan mantap.

"Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?" sanggah Baginda memojokkan.
Peserta kedua bjngung, la pun dijebloskan ke dalam penjara.

Lalu giliran peserta ketiga. Dan ia berkata; "Tuanku yang mulia, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu daripada telur."
"Sebutkan alasanmu." kata Baginda.
"Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina." kata peserta ketiga meyakinkan.
"Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang, Sedangkan ayam jantan tidak ada." kata Baginda memancing.
"Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan, Telur dierami sendiri, Lalu menetas dan menurunkan anak ayam jantan, Kemudian menjadi ayam jantan dewasa dan mengawini induknya sendiri." peserta ketiga berusaha menjelaskan.
"Bagaimana bila ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasa sempat mengawininya?" Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda, la pun dimasukkan ke penjara.

Kini tiba giliran Abu Nawas.
la berkata, "Yang pasti adalah telur dulu, baru ayam."
"Coba terangkan secara logis." kata Baginda ingin tahu.
"Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam." kata Abu Nawas singkat.

Agak lama Baginda Raja merenung.
Kali ini Baginda tidak nyanggah alasan Abu Nawas.
Dan Abu Nawas Berhasil membawa pulang Satu pundi penuh uang emas.
Kisah 1001 Malam

Selasa

Mengecoh Raja

 
Sejak peristiwa penghancuran barang-barang di istana oleh Abu Nawas yang dilegalisir oleh Baginda, sejak saat itu pula Baginda ingin menangkap Abu Nawas untuk dijebloskan ke penjara. Sudah menjadi hukum bagi siapa saja yang tidak sanggup melaksanakan titah Baginda, maka tak disangsikan lagi ia akan mendapat hukuman. Baginda tahu Abu Nawas amat takut kepada beruang.
Suatu hari Baginda memerintahkan prajuritnya menjemput Abu Nawas agar bergabung dengan rombongan Baginda Raja Harun Al Rasyid berburu beruang.
Abu Nawas merasa takut dan gemetar tetapi ia tidak berani menolak perintah Baginda.

Dalam perjalanan menuju ke hutan, tiba-tiba cuaca yang cerah berubah menjadi mendung.
Baginda memanggil Abu Nawas. Dengan penuh rasa hormat Abu Nawas mendekati Baginda.
"Tahukah mengapa engkau aku panggil?" tanya Baginda tanpa sedikit pun senyum di wajahnya.

"Ampun Tuanku, hamba belum tahu." kata Abu Nawas.

"Kau pasti tahu bahwa sebentar lagi akan turun hujan, Hutan masih jauh dari sini, Kau kuberi kuda yang lamban, Sedangkan aku dan pengawal-pengawalku akan menunggang kuda yang cepat, Nanti pada waktu santap siang kita berkumpul di tempat peristirahatanku, Bila hujan turun kita harus menghindarinya dengan cara kita masing-masing agar pakaian kita tetap kering, Sekarang kita berpencar." Baginda menjelaskan.

Kemudian Baginda dan rombongan mulai bergerak.
Abu Nawas kini tahu Baginda akan menjebaknya.
la harus mancari akal.
Dan ketika Abu Nawas sedang berpikir, tiba-tiba hujan turun.

Begitu hujan turun Baginda dan rombongan segera memacu kuda untuk mencapai tempat perlindungan yang terdekat, tetapi karena derasnya hujan, Baginda dan para pengawalnya basah kuyup.

Ketika santap siang tiba Baginda segera menuju tempat peristirahatan.
Belum sempat baju Baginda dan para pengawalnya kering, Abu Nawas datang dengan menunggang kuda yang lamban.

Baginda dan para pengawal terperangah karena baju Abu Nawas tidak basah.
Sedangkan dengan kuda yang paling cepat pun tidak bisa mencapai tempat berlindung yang paling dekat.
Namun Baginda Raja dengan cepat menutupi kekagetannya.

Kini Baginda dan para pengawal-pengawalnya mengendarai kuda-kuda yang lamban.
Setelah Abu Nawas dan rombongan kerajaan berpencar, hujan pun turun seperti kemarin.
Bahkan hujan hari ini lebih deras daripada kemarin.
Baginda dan pengawalnya langsung basah kuyup karena kuda yang ditunggangi tidak bisa berlari dengan kencang.

Ketika saat bersantap siang tiba, Abu Nawas tiba di tempat peristirahatan lebih dahulu dari Baginda dan pengawalnya.
Abu Nawas menunggu Baginda Raja.

Selang beberapa saat Baginda dan para pengawalnya tiba dengan pakaian yang basah kuyup.
Melihat Abu Nawas dengan pakaian yang tetap kering Baginda jadi bertambah penasaran.
Beliau tidak sanggup lagi menahan keingintahuan yang selama ini disembunyikan.
"Terus terang bagaimana caranya menghindari hujan, wahai Abu Nawas." tanya Baginda. "Sedangkan aku dengan kuda yang cepat tidak sanggup mencapai tempat berteduh terdekat, apalagi dengan kuda yang lamban ini." kata Baginda.

"Mudah Tuanku yang mulia." kata Abu Nawas sambil tersenyum.
"Hamba sebenarnya tidak melarikan diri dari hujan.
Tetapi begitu hujan turun hamba secepat mungkin melepas pakaian hamba dan segera melipatnya, lalu mendudukinya, Ini hamba lakukan sampai hujan berhenti."

Diam-diam Baginda Raja mengakui kecerdikan Abu Nawas.
Kisah 1001 Malam

Jumat

Mendemo Tuan Kadi

 

Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Ada dua orang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.
Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda Mesir.
Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka.

"Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta batu."

Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas.
Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan berada di pihak yang benar.

Pada malam harimya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,"Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak Tuan Kadi yang baru jadi."
"Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?" gumam semua muridnya keheranan.
"Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" kata Abu Nawas menghapus keraguan murid-muridnya.
Barangsiapa yang mencegahmu, jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa yang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barangsiapa yang hendak melempar kalian, maka pukul mereka dan iemparilah dengan batu." Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah Tuan Kadi.

Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi.
Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka.
Lebih-lebih ketika tanpa basa-basi lagi mereka langsung merusak rumah Tuan Kadi.

Orang-orang kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani mencegah.
Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan bertanya : "Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?"

Murid-murid itu menjawab,"Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami!" Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.

Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak orang yang berani membelanya
"Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya kepada Baginda."

Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap Baginda.
Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya. "Hai Abu Nawas apa sebabnya kau merusak rumah Kadi itu"

Abu Nawas menjawab,"Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada suatu malam hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya.
Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi.
Yaaa, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi."

Baginda berkata," Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?"

Dengan tenang Abu Nawas menjawab,"Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang baru ini Tuanku."

Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. la terdiam seribu bahasa.

"Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?" tanya Baginda.
Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran karena takut.

"Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini !" perintah Baginda.

"Baiklah ...... "Abu Nawas tetap tenang. "Baginda.... beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta yang banyak sekali.
Pada suatu malam ia bermimpi kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak.
Ini hanya mimpi kan Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi.
Nah, di sinilah terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik pemuda Mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."

Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda Mesir.

Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke hadapan Baginda.

Berkata Baginda Raja,"Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu sejak engkau datang ke negeri ini."
Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia menginap.

"Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad moralnya." Baginda sangat murka.

Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir.
Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas pulang ke rumahnya.
Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas : "Janganlah engkau memberiku barang sesuatupun kepadaku, Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua."

Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas.
Ketika ia kembali ke negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.
Kisah 1001 Malam

Rabu

Menjadi Gila

 

Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.
Abu Nawas dipanggil ke istana.
la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana.
Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya, maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.

Namun... demi mendengar rencana sang Sultan.
Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila, Usai upacara pemakaman bapaknya.
Abu Nawas mengambil batang sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya.
Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.

Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya.
Dan di atas makam bapaknya itu ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.
Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya. Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas.

"Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana." kata wazir utusan Sultan.
"Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya."jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.
"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu."
"Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar." kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.
Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas. "Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?" kata wazir.
"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau." kata Abu Nawas.
"Apa maksudnya Abu Nawas?" tanya wazir dengan rasa penasaran.
"Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu." sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.

Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas.
Mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.
Dengan geram Sultan berkata,"Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan Abu Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa."

Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hadapan raja.
Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.
"Abu Nawas bersikaplah sopan!" tegur Baginda.
"Ya Baginda, tahukah Anda....?"
"Apa Abu Nawas...?"
"Baginda... terasi itu asalnya dari udang !"
"Kurang ajar kau menghinaku Nawas !"
"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?"

Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada para pengawalnya.
"Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali"
Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar.

Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana.
Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.
"Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian, Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berkata, Aku bagi dua bagian, engkau satu bagian, aku satu bagian, Nah, sekarang mana bagianku itu?"

"Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepada tadi?"
"lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?"
"Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!"
"Wah ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda."

Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.
Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.
Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya.

Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.
"Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun, Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang teiah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda."

Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas.
Setelah Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya."Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?"
Berkata Abu Nawas,"Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu."
"Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang itu?" tanya Baginda.
"Tuanku,"kata Abu Nawas."Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya. Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya."

"Benar Tuanku,"jawab penunggu pintu gerbang. "Tapi hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan."

"Hahahahaha IDasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!"sahut Baginda."Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memeras orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan memecat dan menghukum kamu!"

"Ampun Tuanku,"sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar.

Abu Nawas berkata,"Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba."

Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha...jangan kuatir Abu Nawas." Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas.

Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira, Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.

Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para menterinya. "Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai kadi?"
Wazir atau perdana meneteri berkata,"Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi."
Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama. "Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi."
"Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja."

Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.

Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya.

Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan.
"Alhamdulillah aku telah terlepas dari balak yang mengerikan.
Tapi.,..sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja."

Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila?

Ceritanya begini:
Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggii Abu Nawas untuk menghadap.
Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai.

Berkata bapaknya,"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku."
Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.

"Bagamaina anakku? Sudah kau cium?"
"Benar Bapak!"
"Ceritakankan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku int."
"Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali.
Tapi... yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?"

"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?"
"Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini."

Berkata Syeikh Maulana "Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku.
Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suka maka tak kudengar pengaduannya.
Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jika kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan mengalami hal yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan Harun Al Rasyid.
Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi."

Nah, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutuskan suatu perkara.
Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara.
Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.
Kisah 1001 Malam

Jumat

Membalas Perbuatan Raja

 

Abu Nawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagi beberapa pekerja kerajaan atas titah langsung Baginda Raja membongkar rumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah.
Kata mereka tadi malam Baginda bermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya.
Tetapi setelah mereka terus menggali ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan.
Dan Baginda juga tidak meminta maaf kepada Abu Nawas, apa lagi mengganti kerugian.

Inilah yang membuat Abu Nawas memendam dendam.
Lama Abu Nawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan muslihat untuk membalas Baginda.
Makanan yang dihidangkan oleh istrinya tidak dimakan karena nafsu makannya lenyap.

Malam pun tiba, namun Abu Nawas tetap tidak beranjak.
Keesokan hari Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan Abu Nawas yang sudah basi.
la tiba-tiba tertawa riang. "Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi." Abu Nawas berkata kepada istrinya.
"Untuk apa?" tanya istrinya heran.
"Membalas Baginda Raja." kata Abu Nawas singkat.

Dengan muka berseri-seri Abu Nawas berangkat menuju istana.
Setiba di istana Abu Nawas membungkuk hormat dan berkata, "Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang.
Mereka memasuki rumah hamba tanpa ijin dari hamba dan berani memakan makanan hamba."

"Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas?" sergap Baginda kasar.

"Lalat-lalat ini, Tuanku." kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya.
"Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil ini."

"Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?"

Abu nawas berkata : "Hamba hanya menginginkan ijin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu."

Baginda Raja tidak bisa mengelakkan diri menolak permintaan Abu Nawas karena pada saat itu para menteri sedang berkumpul di istana.
Maka dengan terpaksa Baginda membuat surat ijin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu di manapun mereka hinggap.

Tanpa menunggu perintah Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnya hingga mereka terbang dan hinggap di sana sini.
Dengan tongkat besi yang sudah sejak tadi dibawanya dari rumah, Abu Nawas mulai mengejar dan memukuli lalat-lalat itu.

Ada yang hinggap di kaca. Abu Nawas dengan leluasa memukul kaca itu hingga hancur, kemudian vas bunga yang indah, kemudian giliran patung hias sehingga sebagian dari istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas.

Bahkan Abu Nawas tidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda Raja.
Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruan yang telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluarganya.
Dan setelah merasa puas, Abu Nawas mohon diri.
Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu.

Kini ia sadar betapa kelirunya berbuat semena-mena kepada Abu Nawas.
Abu Nawas yang nampak lucu dan sering menyenangkan orang itu ternyata bisa berubah menjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam terhadap orang yang mengusiknya.
Abu Nawas pulang dengan perasaan lega.
Istrinya pasti sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.
Kisah 1001 Malam

Kamis

Tentang Abu Nawas

 
https://www.google.co.id/search?q=cerita+abu+nawas+1001+malam&biw=1020&bih=493&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiEkuKTmYzQAhWMXbwKHRwTAK4Q_AUICCgB#imgrc=h7uyy1yzsELYgM%3A
Nama Abu Nawas begitu populernya sehingga cerita-cerita yang mengandung humor banyak yang di nisbatkan berasal dari Abu Nawas.Tokoh semacam Abu Nawas yang mampu mengatasi berbagai persoalan rumit dengan style humor atau bahkan humor politis temyata juga tidak hanya ada di negeri Baghdad.Kita mengenal Syekh Juha yang hampir sama piawainya dengan Abu Nawas juga Nasaruddin Hoja sang sufi yang lucu namun cerdas.
Kita juga mengenal Kabayari/kabayan dari Jawa Barat yang konyol namun temyata juga cerdas.
Abu Nawas! Setelah mati pun masih bisa membuat orang tertawa.
Di depan makamnya ada pintu gerbang yang terkunci dengan gembok besar sekali.
Namun di kanan kiri pintu gerbang itu pagarnya bolong sehingga orang bisa leluasa masuk untuk berziarah ke makamnya.

Apa maksudnya dia berbuat demikian.
Mungkin itu adalah simbol watak Abu Nawas yang sepertinya tertutup namun sebenarnya terbuka, ada sesuatu yang misteri pada diri Abu Nawas, ia sepertinya bukan orang biasa, bahkan ada yang meyakini bahwa dari kesederhanaannya ia adalah seorang guru sufi namun ia tetap dekat dengan rakyat jelata bahkan konsis membela mereka yang lemah dan tertindas.

Begitu banyak cerita lain yang diadopsi menjadi Kisah Abu Nawas sehingga kadang-kadang cerita tersebut nggak masuk akal bahkan terlalu menyakitkan orang timur, saya curiga jangan-jangan cerita-cerita Abu Nawas yang sangat aneh itu sengaja di ciptakan oleh kaum orientalis untuk menjelek-jelekkan masyarakat Islam.
Karena itu membaca kita harus kritis dan waspada
Pesan Bagi Para Hakim Siapakah Abu Nawas? Tokoh yang dinggap badut namun juga dianggap ulama besar ini sufi, tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggal pada tahun 819 M di Baghdad.
Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir. Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran orang Arab, la juga pandai bersyair, berpantun dan menyanyi. la sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad. yuk kita mulai kisah si penggeli hati ini.
Kisah 1001 Malam

Pelajaran Untuk Karyawan Yang Malas Bekerja

 
https://www.google.co.id/search?q=blog+humor+indonesia&biw=1020&bih=493&source=lnms&tbm=isch&sa=X&sqi=2&ved=0ahUKEwiPgOiek4zQAhUlTo8KHSRZD9UQ_AUICCgD#tbm=isch&q=cerita+lucu&imgrc=_gVdvNmVnALnLM%3A

Seorang direktur baru di sebuah perusahaan mengambil kebijakan untuk memecat semua pegawai yang malas bekerja di perusahaan tersebut.

Saat sedang berkeliling memantau kinerja pegawainya, ia menemukan seseorang yang sedang duduk-duduk santai di meja depan kantornya. Direktur itu berpikir "Apa yang orang ini lakukan?". Jadi dia berjalan menuju ke arah orang tersebut dan mengatakan "Apa yang kamu lakukan, kok cuma duduk-duduk santai disini?".

Orang itu dengan santainya berkata "Saya menunggu untuk dibayar".

Direktur itu pun menanyakan "OK, berapa besar gaji kamu?".

Pria itu membalas, "Sekitar 2,5 juta rupiah sebulan", dan tetap dalam keadaan santai, seperti tidak merasa bersalah.

Direktur yang marah itu pun langsung memberikan orang itu 5 juta rupiah dan mengatakan, "Sekarang kamu pergi dari sini dan jangan pernah kembali!".

Dan orang itu berjalan pergi dengan santainya.

Semua karyawan yang ada di kantor tercengang melihat hal itu. Merasa telah memberikan pelajaran kepada karyawan yang lain, dengan bangga pak direktur itu mengatakan, "Tolong dari salah satu pegawai disini, katakan pada saya apa yang telah saya lakukan pada orang tadi!?".

Seorang karyawan mengatakan, "Wow, anda baru saja memberikan uang tip 5 juta kepada tukang antar pizza.."

Rabu

Komik Super Lucu Karya Anak Indonesia

 

  
Komik Super Lucu Karya Anak Indonesia Komik Super Lucu Karya Anak Indonesia Komik Super Lucu Karya Anak Indonesia Komik Super Lucu Karya Anak Indonesia Komik Super Lucu Karya Anak Indonesia Komik Super Lucu Karya Anak Indonesia Komik Super Lucu Karya Anak Indonesia Komik Super Lucu Karya Anak Indonesia Komik Super Lucu Karya Anak Indonesia Komik Super Lucu Karya Anak Indonesia Komik Super Lucu Karya Anak Indonesia Komik Super Lucu Karya Anak Indonesia
















Jendral Bangsat

 Dasar Babi


Potong Qurban

Kambing Nggak Tau Diri

Ilmu Debus

Kunyuk Goblok

Setan Bego

Jendral Bangsat

Memberi Pelajaran

Pangkas Rambut & Monyet

Cuma Numpang




Ojek