....

....

....

Tampilkan postingan dengan label Tech. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tech. Tampilkan semua postingan

Senin

Kesalahan yang Harus Dihindari Dalam Mengirim E-mail Bisnis

 

Sejalan dengan perjalanan waktu dan kembangannya teknologi,  surat-menyurat bisnis lewat internet sudah jadi hal yang umum. Namun di balik itu, tetap ada etika tidak tertulis terkait kepantasan surat menyurat tersebut.
Berikut 10 kesalahan yang harus Anda hindari saat menulis surat bisnis lewat e-mail:
1. Huruf Besar Semua
Pernahkah Anda menerima surat dengan tulisan huruf besar semua? Meski isi surat biasa saja, tapi kesan yang ditimbulkan oleh penggunaan huruf besar ini sangat khas. Seakan-akan Anda, si pengirim, ‘berteriak’ pada si penerima. Penggunaan ini sangat dianjurkan tidak dilakukan.
2. Huruf yang ‘Lucu’
Penggunaan surat bisnis selayaknya formil. Ada beberapa font atau huruf yang justru sebaliknya. Menimbulkan kesan santai atau kekanak-kanakkan. Penggunaan huruf seperti Comic Sans seharusnya dihindari. Surat bisnis formil mengacu pada huruf Times New Roman, Helvetica atau sejenisnya.
3. Salah Ketik Nama
Ini sangat fatal! Salah ketik nama akan membuat si penerima surat merasa ‘terhina’. Kalau Anda kesulitan mengetik atau kerap salah, lebih baik langsung copy paste nama yang bersangkutan.
4. Menggunakan Emoticons
Tanpa kita sadari, dengan perkembangan chatting, Emoticons di Messenger sudah menjadi hal yang ‘biasa’. Namun menggunakan Emoticons jangan dilakukan di surat resmi. Bayangkan bila ada tanda ‘smiley’ di surat bisnis yang Anda kirim atau Anda terima. Rasanya sih aneh.
5. Bahasa Informal
Surat bisnis juga haram menggunakan bahasa informal. Apalagi bahasa slang yang sekarang lazim dikirim via SMS atau chatting. Anda tidak akan nyaman saat menerima surat seperti ini bukan,
“Halluww! Apa kabar? Si Anu kemaren cerita ke gue, katanya elo punya produk yang khueren abieezz yak? Bisa dungs dishare ke kita-kita di sini. Ditungguh ya sharenya, muaachh.”
6) Bertele-tele
Membuat surat elektronik bisnis jangan bertele-tele. Langsung pada inti masalah. Umumnya, inti kalimat bisa dijelaskan dalam tiga kalimat. Sebuah penelitian di Jerman menemukan, surat bisnis lewat email intinya relatif sama dengan tiga kali mengirim SMS.
7. Subjek Surat Langsung Tegas
Subjek email bisnis harus langsung menggambarkan isi surat. Bukan lagi kalimat percakapan normal seperti ‘Hai’.
8. Merongrong
Biasanya orang tak sabar menanti jawaban atas e-mail mereka. Dalam etika bisnis, mengirim email menanyakan perkembangan sebaiknya dilakukan dalam hitungan puluhan jam. Misalnya, setelah 24 jam, Anda bisa menanyakan bagaimana perkembangan email yang Anda kirim. Jangan langsung baru tiga jam Anda sudah memborbardir menanyakan perkembangan, kecuali memang hal yang mendesak, atau Anda bisa menelepon yang bersangkutan, tidak harus menunggunya.
9. Clip art
Memasang Clip Art dalam surat bisnis resmi sudah pasti dilarang. Tanpa pengecualian.
10. Berkorespondensi via Jejaring Sosial
Etika bisnis mengatur jangan pernah menghubungi kontak Anda via laman jejaring sosial. Gunakanlah saluran yang resmi, yaitu Email. Facebook, Twitter, diciptakan untuk kepentingan pribadi, meski belakangan merambah ke dunia bisnis.
Mengirim surat bisnis via Facebook terkesan meremehkan kontak Anda. Kecuali dalam situasi tertentu, Anda bisa mengirim pesan ke dalam kotak surat di Facebook atau Twitter bersangkutan. Inipun hanya sementara, setelah mendapat tanggapan, Anda sebaiknya mengirim surat dengan email lagi.
Ditulis oleh Stevy Maradona (CNN)
Sumber: Republika.co.id
https://goo.gl/Z6HRhM

Kamis

Tanda Tangan Digital Siap Dukung Dompet Digital Milik Startup

 

Industri startup teknologi di Indonesia yang tengah menggeliat, turut mendorong peningkatan nilai transaksi elektronik hingga menembus angka Rp 440 triliun tiap tahunnya. Pasalnya, banyak startup yang memberikan kemudahan bagi pengguna produk dan jasanya untuk melakukan pembayaran secara digital.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menjawab fenomena ini dengan menggalakkan penggunaan Tanda Tangan Digital sebagai pengganti tanda tangan basah. Tujuannya, supaya transaksi elektronik masyarakat menjadi makin mudah dan aman.

"Sudah banyak teman-teman startup ini yang memiliki dompet digital sendiri, meskipun awalnya bidang usaha mereka bukan di sektor finansial. Misalnya Go-Jek dengan Go-Pay. Sebagai regulator, kami harus berperan untuk meningkatkan standar keamanan dalam melakukan transaksi elektronik," ujar Direktur Jenderal Aptika Kemkominfo Semuel Abrijani Pangerapan di sela-sela acara Seminar Sosialisasi Tanda Tangan Digita yang bertempat di The Kasablanka Main Hall, Jakarta Selatan, hari ini (1/12/2016).

Ia juga menegaskan, negara-negara maju saat ini telah menggunakan standar keamanan transaksi elektronik tingkat tinggi. Jika standar keamanan transaksi elektronik di Indonesia tidak ditingkatkan, negara-negara lain akan sangat berhati-hati dalam melakukan transaksi elektronik dengan Indonesia. Padahal baik pemerintah maupun praktisi ekonomi di negara maju telah melakukan transaksi dan urusan administrasi berbasis digital, bukan lagi analog.

Sudah Ditunggu Pelaku Bisnis
Head of Risk and Compliance Go-Pay dari Go-Jek Indonesia, Setiawan Adhiputro yang turut hadir di acara yang sama, menyampaikan apresiasinya. Ia menilai kebijakan ini mampu menjawab kebutuhan pelaku bisnis digital di Tanah Air.

"Di dunia digital, (kalau) kita belanja di online shop tidak tahu siapa yang jual, kita biasanya masih belum yakin. Begitu juga sebaliknya. Ketiadaan interaksi fisik itulah yang menjadi kendala di transaksi online saat ini. Saya sangat mengapresiasi penerapan Tanda Tangan Digital pada transaksi elektronik," kata Setiawan.
"Tanda Tangan Digital ini sudah ditunggu oleh para selalu bisnis digital di Indonesia. Kapan sebenarnya kita bisa pakai (Tanda Tangan Digital)? Agar masyarakat juga bisa segera merasakan bertransaksi lebih mudah dan aman," pungkas Setiawan.
https://goo.gl/5tyTtw

Rabu

Malware Ini Bisa Mengubah Headphone Jadi Sarana Untuk Memata-matai

 



Siapa sangka, sebuah headphone sederhana ternyata bisa digunakan oleh seorang hacker untuk melakukan aktivitas memata-matai. Hal ini dibuktikan oleh seorang peneliti keamanan internet asal Universitas Ben Gurion Israel. Dalam penelitian yang mereka lakukan, sebuah headphone bisa diubah fungsinya menjadi mikrofon dengan menggunakan sebuah malware yang disebut dengan nama Speak(a)r.

Malware ini memiliki kemampuan untuk mengubah vibrasi yang muncul akibat suara menjadi sebuah sinyal elektromagnetik. Langkah selanjutnya, malware ini juga dapat menipu kanal output pada chip audio sehingga berubah fungsi menjadi kanal input. Menurut catatan dari Wired, hal ini sangat memungkinkan karena adanya fitur chip audio codec Realtek. 

Dengan kemampuan tersebut, sebuah headphone akan bisa bekerja selayaknya mikrofon. Dan tentu saja, hacker yang berhasil menanamkan malware ini akan bisa dengan mudah mendengar segala jenis percakapan yang terjadi di sekitar headphone tersebut. Dan, hampir sebagian besar pengguna komputer di seluruh dunia rawan menjadi korban malware ini. 

Sebagaimana diketahui, mayoritas komputer baik berbasis Mac atau Windows menggunakan chip audio dari Realtek. Kabar buruknya, karena celah ini berada pada chip, maka tidak akan ada update software yang bisa digunakan untuk memperbaikinya. Sebagai langkah preventif, pengguna PC bisa menjauhkan diri dari headphone, setidaknya 6 meter saat terlibat dalam sebuah pembicaraan penting. Atau, bisa pula memilih untuk mencabut headphone.

https://goo.gl/yGyoS0



Waspada Ransomware Locky

 

Pada jaman sekarang, selain virus dan malware yang mengintai para pengguna perangkat komputer dan gadget, juga dikhawatirkan oleh kehadiran ransomware. Seperti yang kita tahu, ransomware ini biasanya menginfeksi file para korbannya, serta meminta sejumlah tebusan bila ingin file tersebut diselamatkan.

Peredarannya pun tergolong canggih, mulai dari menyisipkan kode jahat pada iklan di sebuah situs dan sekarang melalui sebuah file gambar. Seperti yang dilansir dari The Hacker News, penyebaran ransomware yang bernama Locky ini menggunakan media Facebook, LinkedIn, atau media sosial lainnya.

Salah satu perusahan dalam bidang keamanan asal Israel, Check Point, menuturkan bahwa cara kerja dari ransomware Locky ini tergolong baru. Sebelumnya ransomware sendiri beredar dari file dengan ekstensi *.doc atau *.docx yang mana akan kode jahat dari file tersebut langsung berjalan saat dibuka menggunakan program seperti Microsoft Word.

Dari pengamatan para peneliti, pencipta malware ini telah menemukan celah keamanan pada Facebook dan LinkedIn, yang membuat para penggunanya mengunduh file gambar yang telah disisipi dengan kode jahat ke perangkat komputer. Setelah di klik atau dibuka, maka otomatis semua file yang terdapat pada komputer akan dienkripsi dan akan diminta tebusan sejumlah 365 USD, atau berkisar 5 juta Rupiah.
Check Point sendiri mengatakan bahwa pada minggu lalu sebelumnya juga telah ditemukan celah yang sama, yakni menggunakan file dengan format *.svg.

Tapi nampaknya Facebook dan LinkedIn belum menutup celah tersebut, sehingga para penebar ransomware ini masih dapat menyebarkan via media sosial tersebut. Kami himbau untuk Anda tidak mengunduh atau meng-klik kiriman foto yang sekiranya berasal dari orang asing. Tetap waspada selalu.


https://goo.gl/SLFemZ






Selasa

Dengan Berlian, Limbah Nuklir Bisa Dihidupkan Ke Dalam Baterai

 
 
Bicara soal limbah, hal yang selalu terpikirkan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna. Terlebih lagi bila itu limbah nuklir, apa yang harus dilakukan dengan limbah nuklir? Membuangnya ke laut atau menguburnya di gurun bukan solusi yang tepat, karena kita akan kehabisan ruang.
 
Namun para peneliti dari University of Bristol telah menemukan cara memanfaatkan limbah nuklir menggunakan berlian untuk mengubahnya menjadi baterai bersih. battery-life Namun, yang dimaksud bukan berlian yang Anda pakai sebagai perhiasan, melainkan berlian buatan manusia dan apa yang berhasil ditemukan oleh para peneliti bahwa berlian buatan manusia ini mampu menghasilkan charge hanya dengan mendekatkannya ke sumber radioaktif. Dalam hal ini radioaktif adalah limbah nuklir.
 
Hal ini dijelaskan oleh Tom Scott, Profesor di Bahan di Universitas Antarmuka Analisis Pusat, yang mengatakan “Tidak ada bagian yang bergerak yang terlibat dalam hal ini, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak ada perawatan yang diperlukan, langsung murni pembangkit listrik."
 
Dengan encapsulating bahan radioaktif di dalam berlian, kita alihkan masalah jangka panjang limbah nuklir ke baterai bertenaga nuklir dan pasokan energi bersih untuk jangka panjang.” Menurut laporan Engadget, kelemahan baterai berdaya limbah nuklir ini adalah daya yang dihasilkan tidak bertenaga tinggi, jadi jangan berharap mereka dapat memenuhi pasokan listrik rumah atau mobil listrik Anda. Sebaliknya, penggunaan baterai tersebut ditujukan untuk perangkat yang membutuhkan tenaga lebih rendah. Selain itu, diperkirakan bahwa baterai tersebut memiliki potensi untuk bertahan lama dan akan memakan waktu sekitar 5.730 tahun untuk mencapai penggunaan 50%. Tentu ini merupakan solusi yang lebih baik untuk menengani masalah limbah nuklir.
https://goo.gl/0cPtSA
Bicara soal limbah, hal yang selalu terpikirkan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna. Terlebih lagi bila itu limbah nuklir, apa yang harus dilakukan dengan limbah nuklir? Membuangnya ke laut atau menguburnya di gurun bukan solusi yang tepat, karena kita akan kehabisan ruang. Namun para peneliti dari University of Bristol telah menemukan cara memanfaatkan limbah nuklir menggunakan berlian untuk mengubahnya menjadi baterai bersih. battery-life Namun, yang dimaksud bukan berlian yang Anda pakai sebagai perhiasan, melainkan berlian buatan manusia dan apa yang berhasil ditemukan oleh para peneliti bahwa berlian buatan manusia ini mampu menghasilkan charge hanya dengan mendekatkannya ke sumber radioaktif. Dalam hal ini radioaktif adalah limbah nuklir. Hal ini dijelaskan oleh Tom Scott, Profesor di Bahan di Universitas Antarmuka Analisis Pusat, yang mengatakan “Tidak ada bagian yang bergerak yang terlibat dalam hal ini, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak ada perawatan yang diperlukan, langsung murni pembangkit listrik. Dengan encapsulating bahan radioaktif di dalam berlian, kita alihkan masalah jangka panjang limbah nuklir ke baterai bertenaga nuklir dan pasokan energi bersih untuk jangka panjang.” Menurut laporan Engadget, kelemahan baterai berdaya limbah nuklir ini adalah daya yang dihasilkan tidak bertenaga tinggi, jadi jangan berharap mereka dapat memenuhi pasokan listrik rumah atau mobil listrik Anda. Sebaliknya, penggunaan baterai tersebut ditujukan untuk perangkat yang membutuhkan tenaga lebih rendah. Selain itu, diperkirakan bahwa baterai tersebut memiliki potensi untuk bertahan lama dan akan memakan waktu sekitar 5.730 tahun untuk mencapai penggunaan 50%. Tentu ini merupakan solusi yang lebih baik untuk menengani masalah limbah nuklir.ra soal limbah, hal yang selalu terpikirkan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna. Terlebih lagi bila itu limbah nuklir, apa yang harus dilakukan dengan limbah nuklir? Membuangnya ke laut atau menguburnya di gurun bukan solusi yang tepat, karena kita akan kehabisan ruang. Namun para peneliti dari University of Bristol telah menemukan cara memanfaatkan limbah nuklir menggunakan berlian untuk mengubahnya menjadi baterai bersih. battery-life Namun, yang dimaksud bukan berlian yang Anda pakai sebagai perhiasan, melainkan berlian buatan manusia dan apa yang berhasil ditemukan oleh para peneliti bahwa berlian buatan manusia ini mampu menghasilkan charge hanya dengan mendekatkannya ke sumber radioaktif. Dalam hal ini radioaktif adalah limbah nuklir. Hal ini dijelaskan oleh Tom Scott, Profesor di Bahan di Universitas Antarmuka Analisis Pusat, yang mengatakan “Tidak ada bagian yang bergerak yang terlibat dalam hal ini, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak ada perawatan yang diperlukan, langsung murni pembangkit listrik. Dengan encapsulating bahan radioaktif di dalam berlian, kita alihkan masalah jangka panjang limbah nuklir ke baterai bertenaga nuklir dan pasokan energi bersih untuk jangka panjang.” Menurut laporan Engadget, kelemahan baterai berdaya limbah nuklir ini adalah daya yang dihasilkan tidak bertenaga tinggi, jadi jangan berharap mereka dapat memenuhi pasokan listrik rumah atau mobil listrik Anda. Sebaliknya, penggunaan baterai tersebut ditujukan untuk perangkat yang membutuhkan tenaga lebih rendah. Selain itu, diperkirakan bahwa baterai tersebut memiliki potensi untuk bertahan lama dan akan memakan waktu sekitar 5.730 tahun untuk mencapai penggunaan 50%. Tentu ini merupakan solusi yang lebih baik untuk menengani masalah limbah nuklir.

Selengkapnya: https://www.beritateknologi.com/dengan-berlian-limbah-nuklir-bisa-dihidupkan-ke-dalam-baterai/
Bicara soal limbah, hal yang selalu terpikirkan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna. Terlebih lagi bila itu limbah nuklir, apa yang harus dilakukan dengan limbah nuklir? Membuangnya ke laut atau menguburnya di gurun bukan solusi yang tepat, karena kita akan kehabisan ruang. Namun para peneliti dari University of Bristol telah menemukan cara memanfaatkan limbah nuklir menggunakan berlian untuk mengubahnya menjadi baterai bersih. battery-life Namun, yang dimaksud bukan berlian yang Anda pakai sebagai perhiasan, melainkan berlian buatan manusia dan apa yang berhasil ditemukan oleh para peneliti bahwa berlian buatan manusia ini mampu menghasilkan charge hanya dengan mendekatkannya ke sumber radioaktif. Dalam hal ini radioaktif adalah limbah nuklir. Hal ini dijelaskan oleh Tom Scott, Profesor di Bahan di Universitas Antarmuka Analisis Pusat, yang mengatakan “Tidak ada bagian yang bergerak yang terlibat dalam hal ini, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak ada perawatan yang diperlukan, langsung murni pembangkit listrik. Dengan encapsulating bahan radioaktif di dalam berlian, kita alihkan masalah jangka panjang limbah nuklir ke baterai bertenaga nuklir dan pasokan energi bersih untuk jangka panjang.” Menurut laporan Engadget, kelemahan baterai berdaya limbah nuklir ini adalah daya yang dihasilkan tidak bertenaga tinggi, jadi jangan berharap mereka dapat memenuhi pasokan listrik rumah atau mobil listrik Anda. Sebaliknya, penggunaan baterai tersebut ditujukan untuk perangkat yang membutuhkan tenaga lebih rendah. Selain itu, diperkirakan bahwa baterai tersebut memiliki potensi untuk bertahan lama dan akan memakan waktu sekitar 5.730 tahun untuk mencapai penggunaan 50%. Tentu ini merupakan solusi yang lebih baik untuk menengani masalah limbah nuklir.

Selengkapnya: https://www.beritateknologi.com/dengan-berlian-limbah-nuklir-bisa-dihidupkan-ke-dalam-baterai/
Bicara soal limbah, hal yang selalu terpikirkan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna. Terlebih lagi bila itu limbah nuklir, apa yang harus dilakukan dengan limbah nuklir? Membuangnya ke laut atau menguburnya di gurun bukan solusi yang tepat, karena kita akan kehabisan ruang. Namun para peneliti dari University of Bristol telah menemukan cara memanfaatkan limbah nuklir menggunakan berlian untuk mengubahnya menjadi baterai bersih. battery-life Namun, yang dimaksud bukan berlian yang Anda pakai sebagai perhiasan, melainkan berlian buatan manusia dan apa yang berhasil ditemukan oleh para peneliti bahwa berlian buatan manusia ini mampu menghasilkan charge hanya dengan mendekatkannya ke sumber radioaktif. Dalam hal ini radioaktif adalah limbah nuklir. Hal ini dijelaskan oleh Tom Scott, Profesor di Bahan di Universitas Antarmuka Analisis Pusat, yang mengatakan “Tidak ada bagian yang bergerak yang terlibat dalam hal ini, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak ada perawatan yang diperlukan, langsung murni pembangkit listrik. Dengan encapsulating bahan radioaktif di dalam berlian, kita alihkan masalah jangka panjang limbah nuklir ke baterai bertenaga nuklir dan pasokan energi bersih untuk jangka panjang.” Menurut laporan Engadget, kelemahan baterai berdaya limbah nuklir ini adalah daya yang dihasilkan tidak bertenaga tinggi, jadi jangan berharap mereka dapat memenuhi pasokan listrik rumah atau mobil listrik Anda. Sebaliknya, penggunaan baterai tersebut ditujukan untuk perangkat yang membutuhkan tenaga lebih rendah. Selain itu, diperkirakan bahwa baterai tersebut memiliki potensi untuk bertahan lama dan akan memakan waktu sekitar 5.730 tahun untuk mencapai penggunaan 50%. Tentu ini merupakan solusi yang lebih baik untuk menengani masalah limbah nuklir.

Selengkapnya: https://www.beritateknologi.com/dengan-berlian-limbah-nuklir-bisa-dihidupkan-ke-dalam-baterai/
Bicara soal limbah, hal yang selalu terpikirkan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna. Terlebih lagi bila itu limbah nuklir, apa yang harus dilakukan dengan limbah nuklir? Membuangnya ke laut atau menguburnya di gurun bukan solusi yang tepat, karena kita akan kehabisan ruang. Namun para peneliti dari University of Bristol telah menemukan cara memanfaatkan limbah nuklir menggunakan berlian untuk mengubahnya menjadi baterai bersih. battery-life Namun, yang dimaksud bukan berlian yang Anda pakai sebagai perhiasan, melainkan berlian buatan manusia dan apa yang berhasil ditemukan oleh para peneliti bahwa berlian buatan manusia ini mampu menghasilkan charge hanya dengan mendekatkannya ke sumber radioaktif. Dalam hal ini radioaktif adalah limbah nuklir. Hal ini dijelaskan oleh Tom Scott, Profesor di Bahan di Universitas Antarmuka Analisis Pusat, yang mengatakan “Tidak ada bagian yang bergerak yang terlibat dalam hal ini, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak ada perawatan yang diperlukan, langsung murni pembangkit listrik. Dengan encapsulating bahan radioaktif di dalam berlian, kita alihkan masalah jangka panjang limbah nuklir ke baterai bertenaga nuklir dan pasokan energi bersih untuk jangka panjang.” Menurut laporan Engadget, kelemahan baterai berdaya limbah nuklir ini adalah daya yang dihasilkan tidak bertenaga tinggi, jadi jangan berharap mereka dapat memenuhi pasokan listrik rumah atau mobil listrik Anda. Sebaliknya, penggunaan baterai tersebut ditujukan untuk perangkat yang membutuhkan tenaga lebih rendah. Selain itu, diperkirakan bahwa baterai tersebut memiliki potensi untuk bertahan lama dan akan memakan waktu sekitar 5.730 tahun untuk mencapai penggunaan 50%. Tentu ini merupakan solusi yang lebih baik untuk menengani masalah limbah nuklir.

Selengkapnya: https://www.beritateknologi.com/dengan-berlian-limbah-nuklir-bisa-dihidupkan-ke-dalam-baterai/
Bicara soal limbah, hal yang selalu terpikirkan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna. Terlebih lagi bila itu limbah nuklir, apa yang harus dilakukan dengan limbah nuklir? Membuangnya ke laut atau menguburnya di gurun bukan solusi yang tepat, karena kita akan kehabisan ruang. Namun para peneliti dari University of Bristol telah menemukan cara memanfaatkan limbah nuklir menggunakan berlian untuk mengubahnya menjadi baterai bersih. battery-life Namun, yang dimaksud bukan berlian yang Anda pakai sebagai perhiasan, melainkan berlian buatan manusia dan apa yang berhasil ditemukan oleh para peneliti bahwa berlian buatan manusia ini mampu menghasilkan charge hanya dengan mendekatkannya ke sumber radioaktif. Dalam hal ini radioaktif adalah limbah nuklir. Hal ini dijelaskan oleh Tom Scott, Profesor di Bahan di Universitas Antarmuka Analisis Pusat, yang mengatakan “Tidak ada bagian yang bergerak yang terlibat dalam hal ini, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak ada perawatan yang diperlukan, langsung murni pembangkit listrik. Dengan encapsulating bahan radioaktif di dalam berlian, kita alihkan masalah jangka panjang limbah nuklir ke baterai bertenaga nuklir dan pasokan energi bersih untuk jangka panjang.” Menurut laporan Engadget, kelemahan baterai berdaya limbah nuklir ini adalah daya yang dihasilkan tidak bertenaga tinggi, jadi jangan berharap mereka dapat memenuhi pasokan listrik rumah atau mobil listrik Anda. Sebaliknya, penggunaan baterai tersebut ditujukan untuk perangkat yang membutuhkan tenaga lebih rendah. Selain itu, diperkirakan bahwa baterai tersebut memiliki potensi untuk bertahan lama dan akan memakan waktu sekitar 5.730 tahun untuk mencapai penggunaan 50%. Tentu ini merupakan solusi yang lebih baik untuk menengani masalah limbah nuklir.

Selengkapnya: https://www.beritateknologi.com/dengan-berlian-limbah-nuklir-bisa-dihidupkan-ke-dalam-baterai/
Bicara soal limbah, hal yang selalu terpikirkan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna. Terlebih lagi bila itu limbah nuklir, apa yang harus dilakukan dengan limbah nuklir? Membuangnya ke laut atau menguburnya di gurun bukan solusi yang tepat, karena kita akan kehabisan ruang. Namun para peneliti dari University of Bristol telah menemukan cara memanfaatkan limbah nuklir menggunakan berlian untuk mengubahnya menjadi baterai bersih. battery-life Namun, yang dimaksud bukan berlian yang Anda pakai sebagai perhiasan, melainkan berlian buatan manusia dan apa yang berhasil ditemukan oleh para peneliti bahwa berlian buatan manusia ini mampu menghasilkan charge hanya dengan mendekatkannya ke sumber radioaktif. Dalam hal ini radioaktif adalah limbah nuklir. Hal ini dijelaskan oleh Tom Scott, Profesor di Bahan di Universitas Antarmuka Analisis Pusat, yang mengatakan “Tidak ada bagian yang bergerak yang terlibat dalam hal ini, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak ada perawatan yang diperlukan, langsung murni pembangkit listrik. Dengan encapsulating bahan radioaktif di dalam berlian, kita alihkan masalah jangka panjang limbah nuklir ke baterai bertenaga nuklir dan pasokan energi bersih untuk jangka panjang.” Menurut laporan Engadget, kelemahan baterai berdaya limbah nuklir ini adalah daya yang dihasilkan tidak bertenaga tinggi, jadi jangan berharap mereka dapat memenuhi pasokan listrik rumah atau mobil listrik Anda. Sebaliknya, penggunaan baterai tersebut ditujukan untuk perangkat yang membutuhkan tenaga lebih rendah. Selain itu, diperkirakan bahwa baterai tersebut memiliki potensi untuk bertahan lama dan akan memakan waktu sekitar 5.730 tahun untuk mencapai penggunaan 50%. Tentu ini merupakan solusi yang lebih baik untuk menengani masalah limbah nuklir.

Selengkapnya: https://www.beritateknologi.com/dengan-berlian-limbah-nuklir-bisa-dihidupkan-ke-dalam-baterai/
Bicara soal limbah, hal yang selalu terpikirkan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna. Terlebih lagi bila itu limbah nuklir, apa yang harus dilakukan dengan limbah nuklir? Membuangnya ke laut atau menguburnya di gurun bukan solusi yang tepat, karena kita akan kehabisan ruang. Namun para peneliti dari University of Bristol telah menemukan cara memanfaatkan limbah nuklir menggunakan berlian untuk mengubahnya menjadi baterai bersih. battery-life Namun, yang dimaksud bukan berlian yang Anda pakai sebagai perhiasan, melainkan berlian buatan manusia dan apa yang berhasil ditemukan oleh para peneliti bahwa berlian buatan manusia ini mampu menghasilkan charge hanya dengan mendekatkannya ke sumber radioaktif. Dalam hal ini radioaktif adalah limbah nuklir. Hal ini dijelaskan oleh Tom Scott, Profesor di Bahan di Universitas Antarmuka Analisis Pusat, yang mengatakan “Tidak ada bagian yang bergerak yang terlibat dalam hal ini, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak ada perawatan yang diperlukan, langsung murni pembangkit listrik. Dengan encapsulating bahan radioaktif di dalam berlian, kita alihkan masalah jangka panjang limbah nuklir ke baterai bertenaga nuklir dan pasokan energi bersih untuk jangka panjang.” Menurut laporan Engadget, kelemahan baterai berdaya limbah nuklir ini adalah daya yang dihasilkan tidak bertenaga tinggi, jadi jangan berharap mereka dapat memenuhi pasokan listrik rumah atau mobil listrik Anda. Sebaliknya, penggunaan baterai tersebut ditujukan untuk perangkat yang membutuhkan tenaga lebih rendah. Selain itu, diperkirakan bahwa baterai tersebut memiliki potensi untuk bertahan lama dan akan memakan waktu sekitar 5.730 tahun untuk mencapai penggunaan 50%. Tentu ini merupakan solusi yang lebih baik untuk menengani masalah limbah nuklir.

Selengkapnya: https://www.beritateknologi.com/dengan-berlian-limbah-nuklir-bisa-dihidupkan-ke-dalam-baterai/
Bicara soal limbah, hal yang selalu terpikirkan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna. Terlebih lagi bila itu limbah nuklir, apa yang harus dilakukan dengan limbah nuklir? Membuangnya ke laut atau menguburnya di gurun bukan solusi yang tepat, karena kita akan kehabisan ruang. Namun para peneliti dari University of Bristol telah menemukan cara memanfaatkan limbah nuklir menggunakan berlian untuk mengubahnya menjadi baterai bersih. battery-life Namun, yang dimaksud bukan berlian yang Anda pakai sebagai perhiasan, melainkan berlian buatan manusia dan apa yang berhasil ditemukan oleh para peneliti bahwa berlian buatan manusia ini mampu menghasilkan charge hanya dengan mendekatkannya ke sumber radioaktif. Dalam hal ini radioaktif adalah limbah nuklir. Hal ini dijelaskan oleh Tom Scott, Profesor di Bahan di Universitas Antarmuka Analisis Pusat, yang mengatakan “Tidak ada bagian yang bergerak yang terlibat dalam hal ini, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak ada perawatan yang diperlukan, langsung murni pembangkit listrik. Dengan encapsulating bahan radioaktif di dalam berlian, kita alihkan masalah jangka panjang limbah nuklir ke baterai bertenaga nuklir dan pasokan energi bersih untuk jangka panjang.” Menurut laporan Engadget, kelemahan baterai berdaya limbah nuklir ini adalah daya yang dihasilkan tidak bertenaga tinggi, jadi jangan berharap mereka dapat memenuhi pasokan listrik rumah atau mobil listrik Anda. Sebaliknya, penggunaan baterai tersebut ditujukan untuk perangkat yang membutuhkan tenaga lebih rendah. Selain itu, diperkirakan bahwa baterai tersebut memiliki potensi untuk bertahan lama dan akan memakan waktu sekitar 5.730 tahun untuk mencapai penggunaan 50%. Tentu ini merupakan solusi yang lebih baik untuk menengani masalah limbah nuklir.

Selengkapnya: https://www.beritateknologi.com/dengan-berlian-limbah-nuklir-bisa-dihidupkan-ke-dalam-baterai/
Bicara soal limbah, hal yang selalu terpikirkan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna. Terlebih lagi bila itu limbah nuklir, apa yang harus dilakukan dengan limbah nuklir? Membuangnya ke laut atau menguburnya di gurun bukan solusi yang tepat, karena kita akan kehabisan ruang. Namun para peneliti dari University of Bristol telah menemukan cara memanfaatkan limbah nuklir menggunakan berlian untuk mengubahnya menjadi baterai bersih. battery-life Namun, yang dimaksud bukan berlian yang Anda pakai sebagai perhiasan, melainkan berlian buatan manusia dan apa yang berhasil ditemukan oleh para peneliti bahwa berlian buatan manusia ini mampu menghasilkan charge hanya dengan mendekatkannya ke sumber radioaktif. Dalam hal ini radioaktif adalah limbah nuklir. Hal ini dijelaskan oleh Tom Scott, Profesor di Bahan di Universitas Antarmuka Analisis Pusat, yang mengatakan “Tidak ada bagian yang bergerak yang terlibat dalam hal ini, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak ada perawatan yang diperlukan, langsung murni pembangkit listrik. Dengan encapsulating bahan radioaktif di dalam berlian, kita alihkan masalah jangka panjang limbah nuklir ke baterai bertenaga nuklir dan pasokan energi bersih untuk jangka panjang.” Menurut laporan Engadget, kelemahan baterai berdaya limbah nuklir ini adalah daya yang dihasilkan tidak bertenaga tinggi, jadi jangan berharap mereka dapat memenuhi pasokan listrik rumah atau mobil listrik Anda. Sebaliknya, penggunaan baterai tersebut ditujukan untuk perangkat yang membutuhkan tenaga lebih rendah. Selain itu, diperkirakan bahwa baterai tersebut memiliki potensi untuk bertahan lama dan akan memakan waktu sekitar 5.730 tahun untuk mencapai penggunaan 50%. Tentu ini merupakan solusi yang lebih baik untuk menengani masalah limbah nuklir.

Selengkapnya: https://www.beritateknologi.com/dengan-berlian-limbah-nuklir-bisa-dihidupkan-ke-dalam-baterai/
Bicara soal limbah, hal yang selalu terpikirkan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna. Terlebih lagi bila itu limbah nuklir, apa yang harus dilakukan dengan limbah nuklir? Membuangnya ke laut atau menguburnya di gurun bukan solusi yang tepat, karena kita akan kehabisan ruang. Namun para peneliti dari University of Bristol telah menemukan cara memanfaatkan limbah nuklir menggunakan berlian untuk mengubahnya menjadi baterai bersih. battery-life Namun, yang dimaksud bukan berlian yang Anda pakai sebagai perhiasan, melainkan berlian buatan manusia dan apa yang berhasil ditemukan oleh para peneliti bahwa berlian buatan manusia ini mampu menghasilkan charge hanya dengan mendekatkannya ke sumber radioaktif. Dalam hal ini radioaktif adalah limbah nuklir. Hal ini dijelaskan oleh Tom Scott, Profesor di Bahan di Universitas Antarmuka Analisis Pusat, yang mengatakan “Tidak ada bagian yang bergerak yang terlibat dalam hal ini, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak ada perawatan yang diperlukan, langsung murni pembangkit listrik. Dengan encapsulating bahan radioaktif di dalam berlian, kita alihkan masalah jangka panjang limbah nuklir ke baterai bertenaga nuklir dan pasokan energi bersih untuk jangka panjang.” Menurut laporan Engadget, kelemahan baterai berdaya limbah nuklir ini adalah daya yang dihasilkan tidak bertenaga tinggi, jadi jangan berharap mereka dapat memenuhi pasokan listrik rumah atau mobil listrik Anda. Sebaliknya, penggunaan baterai tersebut ditujukan untuk perangkat yang membutuhkan tenaga lebih rendah. Selain itu, diperkirakan bahwa baterai tersebut memiliki potensi untuk bertahan lama dan akan memakan waktu sekitar 5.730 tahun untuk mencapai penggunaan 50%. Tentu ini merupakan solusi yang lebih baik untuk menengani masalah limbah nuklir.

Selengkapnya: https://www.beritateknologi.com/dengan-berlian-limbah-nuklir-bisa-dihidupkan-ke-dalam-baterai/
Bicara soal limbah, hal yang selalu terpikirkan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna. Terlebih lagi bila itu limbah nuklir, apa yang harus dilakukan dengan limbah nuklir? Membuangnya ke laut atau menguburnya di gurun bukan solusi yang tepat, karena kita akan kehabisan ruang. Namun para peneliti dari University of Bristol telah menemukan cara memanfaatkan limbah nuklir menggunakan berlian untuk mengubahnya menjadi baterai bersih. battery-life Namun, yang dimaksud bukan berlian yang Anda pakai sebagai perhiasan, melainkan berlian buatan manusia dan apa yang berhasil ditemukan oleh para peneliti bahwa berlian buatan manusia ini mampu menghasilkan charge hanya dengan mendekatkannya ke sumber radioaktif. Dalam hal ini radioaktif adalah limbah nuklir. Hal ini dijelaskan oleh Tom Scott, Profesor di Bahan di Universitas Antarmuka Analisis Pusat, yang mengatakan “Tidak ada bagian yang bergerak yang terlibat dalam hal ini, tidak ada emisi yang dihasilkan dan tidak ada perawatan yang diperlukan, langsung murni pembangkit listrik. Dengan encapsulating bahan radioaktif di dalam berlian, kita alihkan masalah jangka panjang limbah nuklir ke baterai bertenaga nuklir dan pasokan energi bersih untuk jangka panjang.” Menurut laporan Engadget, kelemahan baterai berdaya limbah nuklir ini adalah daya yang dihasilkan tidak bertenaga tinggi, jadi jangan berharap mereka dapat memenuhi pasokan listrik rumah atau mobil listrik Anda. Sebaliknya, penggunaan baterai tersebut ditujukan untuk perangkat yang membutuhkan tenaga lebih rendah. Selain itu, diperkirakan bahwa baterai tersebut memiliki potensi untuk bertahan lama dan akan memakan waktu sekitar 5.730 tahun untuk mencapai penggunaan 50%. Tentu ini merupakan solusi yang lebih baik untuk menengani masalah limbah nuklir.

Selengkapnya: https://www.beritateknologi.com/dengan-berlian-limbah-nuklir-bisa-dihidupkan-ke-dalam-baterai/